Bookmark and Share   
Pedoman Tata Laksana Klinis HIV Diluncurkan
Untitled Document

Kementerian Kesehatan meluncurkan Buku Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral Pada Orang Dewasa 2011.  

Pedoman ini secara resmi mengubah kriteria untuk mulai terapi anti retroviral. "Kami berharap buku ini dapat meningkatkan program penanggulangan HIV," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, melalui surat elektronik, Minggu (4/12/2011), di Jakarta.

Pedoman yang sangat dinantikan ini secara resmi mengubah kriteria untuk mulai terapi anti retroviral (Anti Retroviral Therapy/ART), terutama meningkatkan batas jumlah CD4 dari 200 menjadi 350. Jadi, seseorang menjadi lebih awal atau lebih dini dapat pengobatan. Selain itu, ART bila mungkin dimulai oleh ibu hamil terinfeksi HIV.

Pedoman juga mengusulkan agar bila mungkin dilakukan tes HbsAg (tes antibodi hepatitis B/HBV) sebelum mulai ART. Kalau dibutuhkan terapi untuk virus Hepatitis, ART harus dimulai tidak memandang jumlah CD4.

Terkait pemantauan, dianjurkan evaluasi fungsi ginjal (kreatinin) untuk yang memakai TDF dilakukan sebelum mulai, setiap tiga bulan pada tahun pertama dan kemudian jika stabil, setiap enam bulan.

Panduan mengenai kepatuhan juga disediakan, termasuk faktor yang memengaruhinya, tiga langkah yang harus dilakukan petugas sebelum ART dimulai, lengkap dengan pedoman mengenai kesiapan pasien.

Buku ini mencantumkan pedoman amat rinci yang bersifat teknis diagnosis, pengobatan dan pemantauan. Salah satunya, saat memulai ART, semua pasien dewasa dengan infeksi HIV dengan CD4 <350 harus memulai ART, terlepas ada tidaknya gejala klinis.

Selain itu, pasien dengan stadium klinis lanjut (stadium klinis 3 atau 4) harus memulai ART berapapun jumlah CD4-nya. Semua pasien juga perlu mempunyai akses pemeriksaan CD4 untuk rawatan pra-ART dan manajemen ART yang lebih optimum.

Pemeriksaan viral load untuk memastikan kemungkinan gagal terapi juga perlu dilakukan. Pemantauan toksisitas obat berdasarkan gejala dan hasil laboratoriumKoinfeksi HIV/TB. Berapa pun jumlah CD4-nya, pasien dengan koinfeksi HIV dan TB harus memulai ART sesegera mungkin setelah memulai terapi TB selama 2-8 minggu atau setelah OAT dapat ditoleransi dan stabil.

Berapapun jumlah CD4-nya atau stadium klinisnya, pasien yang memerlukan terapi untuk infeksi HBV (hepatitis kronik aktif) perlu memulai ART. Selain itu semua ibu hamil terinfeksi mesti memulai ART pada semua ibu hamil terinfeksi HIV, apapun stadium klinisnya atau berapapun jumlah CD4, bila memungkinkan.

"Jangan memakai EFV selama trimester I kehamilan," ujarnya menambahkan.

 

(kompas.com)

 

Berita Terkini

16/5/2012
Diamond Summit 2012: United in Love

Wisata DS memang selalu mengetengahkan hal yang selalu baru dan memberi inspiras

7/5/2012
Julianto in Jakarta Post's Prespective

Dalam rubrik Weekender, Julianto berbagi pengalaman dengan jurnalis senior The J

Artikel Baru

8/5/2012
Hindari, Agar BAB Lancar

Susah buang air besar (BAB) atau sembelit biasanya paling sering disebabkan karena tubuh kurang makan serat.

8/5/2012
Waspadai Batuk Rejan!

Orang yang batuk berkepanjangan diminta agar waspada karena bisa menjadi pertanda kanker paru-paru.


ARSIP POJOK >>

     
Copyright © 2012 by PT Harmoni Dinamik Indonesia. Red Top Square #B7-8, Jl. Pecenongan Raya No.72, Jakarta 10120.